Minggu, 23 Maret 2014

Mafia Kos

Sabtu siang aku ingin membayar kosan. Dengan wajah yang sumringah menuju ruang depan rumah Ibu kos. Sampai di depan rumah, pintu terbuka dan terlihat ibu kos sedang menonton tv. Aku melepas sandal dan melangkah ke depan pintu.
“Bu, mau bayar kos.” Kataku
“Oh, ya mas. Tunggu.” Ibu kos mematikan TV lalu menuju ke ruang dalam. Mungkin mengambil kwitansi. Beberapa saat kembali ke ruang depan menata kursi yang ada di samping TV. Kemudian masuk lagi ke ruang tengah. Kok agak lama ya, batinku. Kembali lagi ke ruang depan menuju meja dan membuka laci untuk mengambil kwitansi.
“Silahkan duduk mas.” Sambil menunjuk kursi yang ada di depan TV. Ibu kos duduk di sebelah TV. Biasanya tidak pernah disuruh duduk saat membayar kos. Ada apa ya?
“mas Zakki ya?”
“iya Bu...” jawabku.
“mulai tanggal 1 ya?”
“iya Bu...” jawabku lagi.
“mas,sebenarnya saya sama bapak sudah capek.”
Lho, kenapa Ibu kos bilang begini. Ah, pasti gara-gara itu
“Sudah 5 bulan kok masih sama saja. Bapak sebenarnya sudah mau bilang ke Mas kalau lebih baik tidak usah diperpanjang bulan depan. Cari kosan yang lain saja.” Dengan wajah yang kesal. Guratan-guratan dipipinya semakin kentara. Wajah yang setiap hari kelihatan penuh beban. Sekarang menjadi sangat kelihatan.
Aduh, kok sampai seperti ini. Aku tidak pernah menyangkanya.
“Bapak sudah mau bilang kemarin tapi saya cegah. Saya kasih kesempatan bulan ini. Nanti saya bilang ke masnya. Jika masih saja diulangi, ya mau bagaimana lagi.”
Aku menelan ludah, hanya bisa diam mendengarkan.
“kami sebenarnya tau tapi kami diam saja. Kami pikir mas sudah dewasa, bisa berpikir sendiri. Bisa menyadari. Padahal dulu sudah pernah diperingati. Kok masih saja dilakukan. Hampir setiap hari, ya sudah setiap hari selalu ada saja. Entah itu pagi, siang, sore atau malam ada saja yang kumpul.”
 Ibu kos menghela nafas. Tatapan matanya tidak sepenuhnya tertuju padaku. Ada sedikit keraguan. Lebih banyak memandang ke bawah.
“kami sudah memberi tahu aturan-aturannya ketika baru masuk. Kalau lupa masih wajarlah tapi dulu pernah diingatkan lagi. Seharusnya bisa mengerti. Kami membuat peraturan bukan asal. Banyak pertimbangan juga. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada muncul pertimbangan-pertimbangan lalu kami buat peraturan.”
Masih saja aku terdiam. Memeperhatikan dan mendengarkan saja cukup. Memang aku yang salah, tidak perlu membuat alasan-alasan. Nanti kalau salah ucap bisa berbahaya. Ini masih diberi kesempatan satu bulan, bisa digunakan untuk memperbaiki diri.
“Bapak itu gak suka kalau setiap hari ada yang main, kumpul-kumpul atau apalah. Entah itu pagi siang sore malam. Kami itu kepikiran terus. Gimana kalau yang lain lihat? Ini kok gak dimarahin? Lalu yang lain jadi ikut-ikutan. Bapak itu gak mau ngomel-ngomel. Nanti dicap cerewet atau gimana kan juga gak enak. Kami pengen sama-sama nyaman. Kan semua yang kos sudah pada gede, masa gak tau peraturan.” Omelan yang cukup panjang dan membuatku ingin segera hengkang dari sini. Aku bingung juga kenapa kok dilarang menginap? Aku pernah punya pikiran untuk membalikkan fakta. Temanku tidak menginap kok, hanya main malam hari dan pulang pagi.
Aku masih saja terdiam, hanya senyuman getir. Ini situasi yang benar-benar berbahaya. Jika salah melangkah saja bisa berakibat fatal.
Ibu kos masih melanjutkan nasihat. Eh, omelan maksudku. Aku ingin ini segera berakhir. Berapa lama lagi? Aku sudah lapar.
“dulu ada kejadian seperti ini juga Mas.” Aduh kenapa masih berlanjut. Malah mendongeng. “anak yang kos di atas itu. Setiap hari ada teman yang datang. Hingga akhirnya kami tegur, terus anak itu malah membawa teman-teman yang lainnya. Anak kos yang lain disuruh membantu membela. Dia membela bahwa temannya tidak menginap. Iya saya tahu tidak menginap. Tapi dari pagi sampai malam dan itu setiap hari. Kan sama saja itu. Hanya membolak balikkan fakta. Akhirnya 10 anak yang di kamar atas itu kami suruh keluar. Ya mau bagaimana lagi. Kami sudah capek. Banyak urusan, harus mengurus anak kami sendiri. Mengurus anak-anak kos yang berjumlah 30. Mengurus fasilitas-fasilitas. Seperti pintu kamar mandi yang kekunci dari luar, sampai sekarang belum dibenahi. Nyuruh tukang gak ada yang bisa.” Keluh kesah bu kos selama ini sudah aku mengerti. Ya aku menyadari sejak pindah kos disini. Raut wajahnya yang tampak tirus, kurang semangat, keriputan juga mulai muncul. Pokoknya wajahnya tidak menggambarkan batin yang bebas. Tertekan sekali.
                Aku hanya duduk terdiam di kursi mendengarkan cerita ibu kos. Memandangi sekeliling ruangan. Dimana terdapat piala-piala berjejer di samping TV , juga di atas almari. Sepertinya milik anak-anaknya. Hebat juga didikannya.
“pokoknya jangan sampai diulangi Mas, kalau sampai ada lagi yang kumpul-kumpul. Entah itu pagi siang sore malam. Kami tidak mau tau. Kami beri kesempatan satu bulan. Jika masih saja. Ya bapak sudah...” pembicaraanya berhenti, tidak sanggup melanjutkan perkataan. Aku masih terdiam saja
“satu bulan ya Mas?” tanya Ibu kos. Sambil menuliskan di kuitansi
“iya Bu.” Jawabku lirih, masih sedikit rasa takut.
Lalu aku menyerahkan uang. “Maaf ya Bu.” Akhirnya terucap kata maaf dariku. Sudah dari tadi aku menunggu waktu yang pas untuk meminta maaf. Kalau meminta maaf ketika sedang diomeli itu kurang pas. Takutnya omelannya panjang dan akan terucap banyak kata maaf. Aku memutuskan untuk menunggu omelan selesai baru minta maaf.
“Iya gak papa Mas.” Jawab ibu kos. “sebentar, saya ambilkan kembaliannya.” Sambil menuju dalam ruangan.
Tidak lama kemudian ibu kos kembali. “Ini Mas 40 ribu.” Aku menerimanya sambil berdiri dan ingin segera beranjak dari tempat itu. Sekali lagi aku meminta maaf. “maaf ya Bu.” Dan ibu kos menjawab dengan kalimat yang sama.
“sekalian bilang ke temannya, mas Zidni ya.” Pesan Ibu kos sebelum aku keluar.

“Iya Bu, akan saya sampaikan. Terima kasih Bu.” Ucapku sembari tersenyum.

4 komentar:

  1. iki mesti goro'' aku nginepp.. sepurane mal, Aham ae sing salah. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaha... ora popo... ancen koncoku sering nginep kok

      Hapus
    2. wkwkwk, yowes aku nginep maneh nek ngunu. hha

      Hapus