Minggu, 30 Maret 2014

Tak Sengaja Tumpah atau Sebaliknya

pagi-pagi, aku keluar kamar untuk berwudlu. membuka kamar dan menuju kamar mandi. cukup 7 langkah saja untuk menuju kamar mandi. setelah membasuh kaki, wudluku selesai. lantas aku kembali menuju kamar. ketika sampai di depan jendela kamar langkahku terhenti. memeperhatikan setiap jengkal pada lantai, tembok, dan jendela. hei! apa yang telah terjadi. bercak-bercak tak karuhan. kutundukkan kepalaku lebih dekat. berusaha mencermati kejadian apa yang telah terjadi. macam seorang detektif. cairan coklat yang telah mengalir dari kaca jendela. meninggalkan noda kering pada kaca itu kemudian mengalir pada kusen jendela. tampak cairan itu sudah mengering. aku merapatkan hidungku tepat di atas kusen itu. ah, bau kopi. cairan itu mengalir pada tembok putih. hingga terlihat jelas bercak coklat dan bermuara di atas lantai. namun pagi itu (5:30) cairan telang mengering. lantas aku ulangi penyelidikanku mulai dari bawah. menatapi bercak-bercak yang berupa aliran dari atas dan juga sedikit cipratan disekitar muara itu. kutelusuri jalur aliran pada tembok, naik terus hingga pada kusen jendela. terdapat endapan yang cukup luas. hampir semua terkumpul disitu. naik keatas lagi, kaca jendela pertama ternyata tidak ada bekas aliran kopi. karena memang sedikit tegak. kuarahkan mataku ke atasnya. nah, ini pasti muasalnya. kaca jendela ke dua yang posisinya cukup miring dan tapak jelas aliran kopi itu. hei, sepertinya ada yang telah menuangkan kopi di situ. kalau kopi dituangkan dari dalam sepertinya agak aneh juga. selambu kamarku tertutup kok. kalau seseorang yang melintas depan kamarku sambil membawa kopi dan tidak sengaja tumpah. itu juga aneh. tidk mungkin tumpahannya pada kaca jendela. ya ada kemungkinan aku bertanya pada Zidni, mungkin dia menjadi saksi mata atau memang dia pelakunya. eh... hahaha. memang semalam dia membuat secangkir kopi. lantas aku tidur duluan dan dia masih terjaga sampai pagi. aku yakin dia tahu kejadian itu.aku yakin lagi, bukan aku pelakunya. tapi yang menjadi masalah adalah tempat kejadian perkara ada di depan kamarku. tepat sore ini bu kos menyapu halaman depan kamar dan langkahnya terhenti pada noda itu. karena aku hendak menuju kamar jadi aku tau persis dia menatapnya tercengang. kok bisa, mungkin itu yang ada dibenaknya. kemudian bu kos kembali menyapu lagi saat aku masuk kamar. di dalam kamar aku jadi merasa tidak nyaman. kayaknya bu kos akan curiga dengan pemilik kamar. ya meskipun dia tidak berkata apapun dan ku dengar dari dalam kamar dia membersihkan noda itu. jadi ingin tau kejadian yang sebenarnya telah terjadi. semoga aku mendapat penjelasan baik darinya.

Rabu, 26 Maret 2014

Bukan Lagi Ultimatum

kembali melewati setiap pintu
kami hanya terdiam
mata tidak memeberi sapa
apalagi ucap
hanya sekilas melirik
lewat dengan santainya, kalem
terbesit ingatan sebulan yang lalu
ketika aku hampir terjatuh
tidak mudah, aku diselamatkan
untuk melanjutkan singgah di kolong ini

tak bisa kami mengelak
ini murni kekhilafan laku atas aturan
cukup berucap, berbisik-bisik
hei, bukannkah aku telah diselamatkan?
dengan satu syarat
jangan! sekali-kali kalian ketahui!
aku mengulangi lagi!

berharap keajaiban
itu bukan larangan
memantau saja, ya perasangka baik
tetap saja mendebarkan
sorot matanya itu lo
terhalang kaca mata
tetap saja penuh geram
sudahlah, khusnudzon saja

Minggu, 23 Maret 2014

Mafia Kos

Sabtu siang aku ingin membayar kosan. Dengan wajah yang sumringah menuju ruang depan rumah Ibu kos. Sampai di depan rumah, pintu terbuka dan terlihat ibu kos sedang menonton tv. Aku melepas sandal dan melangkah ke depan pintu.
“Bu, mau bayar kos.” Kataku
“Oh, ya mas. Tunggu.” Ibu kos mematikan TV lalu menuju ke ruang dalam. Mungkin mengambil kwitansi. Beberapa saat kembali ke ruang depan menata kursi yang ada di samping TV. Kemudian masuk lagi ke ruang tengah. Kok agak lama ya, batinku. Kembali lagi ke ruang depan menuju meja dan membuka laci untuk mengambil kwitansi.
“Silahkan duduk mas.” Sambil menunjuk kursi yang ada di depan TV. Ibu kos duduk di sebelah TV. Biasanya tidak pernah disuruh duduk saat membayar kos. Ada apa ya?
“mas Zakki ya?”
“iya Bu...” jawabku.
“mulai tanggal 1 ya?”
“iya Bu...” jawabku lagi.
“mas,sebenarnya saya sama bapak sudah capek.”
Lho, kenapa Ibu kos bilang begini. Ah, pasti gara-gara itu
“Sudah 5 bulan kok masih sama saja. Bapak sebenarnya sudah mau bilang ke Mas kalau lebih baik tidak usah diperpanjang bulan depan. Cari kosan yang lain saja.” Dengan wajah yang kesal. Guratan-guratan dipipinya semakin kentara. Wajah yang setiap hari kelihatan penuh beban. Sekarang menjadi sangat kelihatan.
Aduh, kok sampai seperti ini. Aku tidak pernah menyangkanya.
“Bapak sudah mau bilang kemarin tapi saya cegah. Saya kasih kesempatan bulan ini. Nanti saya bilang ke masnya. Jika masih saja diulangi, ya mau bagaimana lagi.”
Aku menelan ludah, hanya bisa diam mendengarkan.
“kami sebenarnya tau tapi kami diam saja. Kami pikir mas sudah dewasa, bisa berpikir sendiri. Bisa menyadari. Padahal dulu sudah pernah diperingati. Kok masih saja dilakukan. Hampir setiap hari, ya sudah setiap hari selalu ada saja. Entah itu pagi, siang, sore atau malam ada saja yang kumpul.”
 Ibu kos menghela nafas. Tatapan matanya tidak sepenuhnya tertuju padaku. Ada sedikit keraguan. Lebih banyak memandang ke bawah.
“kami sudah memberi tahu aturan-aturannya ketika baru masuk. Kalau lupa masih wajarlah tapi dulu pernah diingatkan lagi. Seharusnya bisa mengerti. Kami membuat peraturan bukan asal. Banyak pertimbangan juga. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada muncul pertimbangan-pertimbangan lalu kami buat peraturan.”
Masih saja aku terdiam. Memeperhatikan dan mendengarkan saja cukup. Memang aku yang salah, tidak perlu membuat alasan-alasan. Nanti kalau salah ucap bisa berbahaya. Ini masih diberi kesempatan satu bulan, bisa digunakan untuk memperbaiki diri.
“Bapak itu gak suka kalau setiap hari ada yang main, kumpul-kumpul atau apalah. Entah itu pagi siang sore malam. Kami itu kepikiran terus. Gimana kalau yang lain lihat? Ini kok gak dimarahin? Lalu yang lain jadi ikut-ikutan. Bapak itu gak mau ngomel-ngomel. Nanti dicap cerewet atau gimana kan juga gak enak. Kami pengen sama-sama nyaman. Kan semua yang kos sudah pada gede, masa gak tau peraturan.” Omelan yang cukup panjang dan membuatku ingin segera hengkang dari sini. Aku bingung juga kenapa kok dilarang menginap? Aku pernah punya pikiran untuk membalikkan fakta. Temanku tidak menginap kok, hanya main malam hari dan pulang pagi.
Aku masih saja terdiam, hanya senyuman getir. Ini situasi yang benar-benar berbahaya. Jika salah melangkah saja bisa berakibat fatal.
Ibu kos masih melanjutkan nasihat. Eh, omelan maksudku. Aku ingin ini segera berakhir. Berapa lama lagi? Aku sudah lapar.
“dulu ada kejadian seperti ini juga Mas.” Aduh kenapa masih berlanjut. Malah mendongeng. “anak yang kos di atas itu. Setiap hari ada teman yang datang. Hingga akhirnya kami tegur, terus anak itu malah membawa teman-teman yang lainnya. Anak kos yang lain disuruh membantu membela. Dia membela bahwa temannya tidak menginap. Iya saya tahu tidak menginap. Tapi dari pagi sampai malam dan itu setiap hari. Kan sama saja itu. Hanya membolak balikkan fakta. Akhirnya 10 anak yang di kamar atas itu kami suruh keluar. Ya mau bagaimana lagi. Kami sudah capek. Banyak urusan, harus mengurus anak kami sendiri. Mengurus anak-anak kos yang berjumlah 30. Mengurus fasilitas-fasilitas. Seperti pintu kamar mandi yang kekunci dari luar, sampai sekarang belum dibenahi. Nyuruh tukang gak ada yang bisa.” Keluh kesah bu kos selama ini sudah aku mengerti. Ya aku menyadari sejak pindah kos disini. Raut wajahnya yang tampak tirus, kurang semangat, keriputan juga mulai muncul. Pokoknya wajahnya tidak menggambarkan batin yang bebas. Tertekan sekali.
                Aku hanya duduk terdiam di kursi mendengarkan cerita ibu kos. Memandangi sekeliling ruangan. Dimana terdapat piala-piala berjejer di samping TV , juga di atas almari. Sepertinya milik anak-anaknya. Hebat juga didikannya.
“pokoknya jangan sampai diulangi Mas, kalau sampai ada lagi yang kumpul-kumpul. Entah itu pagi siang sore malam. Kami tidak mau tau. Kami beri kesempatan satu bulan. Jika masih saja. Ya bapak sudah...” pembicaraanya berhenti, tidak sanggup melanjutkan perkataan. Aku masih terdiam saja
“satu bulan ya Mas?” tanya Ibu kos. Sambil menuliskan di kuitansi
“iya Bu.” Jawabku lirih, masih sedikit rasa takut.
Lalu aku menyerahkan uang. “Maaf ya Bu.” Akhirnya terucap kata maaf dariku. Sudah dari tadi aku menunggu waktu yang pas untuk meminta maaf. Kalau meminta maaf ketika sedang diomeli itu kurang pas. Takutnya omelannya panjang dan akan terucap banyak kata maaf. Aku memutuskan untuk menunggu omelan selesai baru minta maaf.
“Iya gak papa Mas.” Jawab ibu kos. “sebentar, saya ambilkan kembaliannya.” Sambil menuju dalam ruangan.
Tidak lama kemudian ibu kos kembali. “Ini Mas 40 ribu.” Aku menerimanya sambil berdiri dan ingin segera beranjak dari tempat itu. Sekali lagi aku meminta maaf. “maaf ya Bu.” Dan ibu kos menjawab dengan kalimat yang sama.
“sekalian bilang ke temannya, mas Zidni ya.” Pesan Ibu kos sebelum aku keluar.

“Iya Bu, akan saya sampaikan. Terima kasih Bu.” Ucapku sembari tersenyum.

Kamis, 06 Maret 2014

Merintis Komunitas

aktif ngeblog lagi. menulis bisa menumbuhkan imaji yang masih melayang. ya itu salah satu alasan.
besok hari yang aku tunggu. bertemu dengan pengurus komunitas menulis. penerbit mahakam kalau tidak salah. berawal chat dari teman. "Mal, ayok ikut merintis komunitas menulis di jogja." ini beneran? sambil nyengir aku membacanya. "aku disuruh pendirinya." wah-wah kenapa aku yang diajak ya. "ini pengalaman berharga, merintis sebuah komunitas dari nol." begitulah pesan-pesan darinya. 'okelah Ros, kita bahas besok.' ada keraguan juga sebenarnya. aku ikut andil dalam merintis komunitas menulis? sedangkan diriku yang jarang sekali menorehkan pena. ada sih keinginan menjadi penulis. tapi ya hanya ingin saja. tidak pernah beraksi. ya aku sanggupi saja. mungkin ini jalanku untuk lebih giat menulis. menulis tentang apa saja. ya aku sangat ingin menulis cerpen sebenarnya. tapi entah aku selalu tidak ada ide. aku merasa ideku ini biasa. cerita yang sangat mudah ditebak oleh pembaca. apalagi menghidupkan setiap peran, yang menurutku tak kalah susahnya. menjiwai watak tokoh yang kita buat. sehingga pembaca juga mampu merasakan emosi setiap tokoh.
aku hanya bisa menulis puisi, itupun tidak menarik menurutku. diksiku masih rendah. aku kurang bisa membungkus isi dengan cantik. bait-baitku masih banyak yang telanjang. jadi mudah sekali untuk dimengerti. kurang estetika puisinya. ya meskipun batinku sudah ikut. kurang sempurna jika baitnya tidak berkias.ya semoga komunitas menulis bisa memberi lilin dalam kegelapan. see you tomorrow.

Dwima A6, 23:56. 6 Maret 2014

Tahun yang berat

Masih berapa bulan yang tersisa, mungkin sekitar 3 bulan lagi. Kesadaranku belum sepenuhnya utuh. Masih saja ingin berleha-leha. Bermalas-malasan setiap hari, sangat jarang belajar. Kadang absen masuk. Namun, mimpiku masih ada dan tinggi pula. Aku sangat mendamba menjadi mahasiswa UGM. Ya meskipun jurusan pertanian, itu masih berat menurutku. Melihat kesiapanku bersaing dengan jawara-jawara lainnya masih sangat jauh. Padahal aku sudah memulai sejak september lalu. Seharusnya aku mengantongi bekal yang cukup hingga bulan-bulan akhir ini tinggal pematangan. Proyek 15 soal per hari hanya tulisan, hanya bualan. Mana buktinya? Soal-soal masih diabaikan. Jauh dari coretan.
Dimana keprihatinanku? Berserah pada Sang Pengatur saja tak mau sepenuhnya. Waktu banyak terbuang sia-sia. Malah maksiat dipelihara. Astaghfirullah. Bagaimana bisa mimpi-mimpiku akan nyata? Jika masih saja begini. Mengikuti arus kenyamanan diri, berlarut-larut dalam tidur. Semangat belajar ancur. Doa-doaku ngelantur. Ingat kembali janji-janji bersama sahabat-sahabat. Aku harus masuk universitas, lalu kita akan ke Karimun Jawa. “Buatlah orang tua dan teman-temanmu bangga dengan kamu diterima menjadi maba UGM agronomi tahun ini (2014). SEMANGAT!!!” ini salah satu motivasi dan harapan dari sahabatku. insyaAllah Sobat. Aku harus bisa! Waktu ku tidak lama lagi.
Aku malu pada diriku. Melihat teman-teman yang telah nyaman dengan dunia baru mereka. Dunia kampus. Menjajaki perjuangan baru. Menjadi seorang pemikir kritis. Seorang yang kreatif. Seorang yang lebih dewasa. Aku melewatkan setahun untuk masa itu. Ya berat sekali. Aku tahu setiap kita berkumpul beberapa bulan yang lalu. Dalam tatapan kalian ada rasa belas kasih padaku, mmm... ada juga tatapan ketidakpercayaan atau bisa jadi benci. Ah, tak boleh berprasangka buruk. Aku benar-benar merasa tertekan ketika kita harus kumpul dalam setahun ini. Aku merasa sendiri, ya tak kulihatkan kemasygulan ini. Aku senang mendengar cerita kampus kalian. Aku senang mendengar kehidupan diperantauan kalian. Meskipun aku juga sekarang merantau tapi ceritaku tak seindah cerita kalian. Aku hanya terdiam menikmati cerita-cerita yang menginspirasiku untuk bisa seperti kalian. Aku masih alumni SMA. Belum menjadi Mahasiswa. Aku harus menjadi mahasiswa tahun ini (2014).
Menyalahkan sekolah? Tidak! Menyalahkan guru-guru? Tidak! Aku tidak menyalahakan siapa-siapa. Ini salahku sendiri. Aku tidak menyalahkan SMA ku. Kami angkatan pertama. Tidak bisa aku menyalahkan. Buktinya teman-temanku bisa melewati kelulusan ini dengan baik. Apalagi menyalahkan guru-guru. Hal yang sangat tidak pantas untuk aku lakukan. Beliau-beliau ini telah totalitas mendidik kami. Memberi semangat perjuangan sebagai angkatan pertama. Justru aku yang telah membuat guru-guruku kecewa. Tidak bisa andil dalam mengahrumkan nama sekolah. Ini murni kesalahanku sendiri. Aku yang dengan santainya menganggap ini gampang. Meremehkan.

Setiap kali orang mendengar jurusan yang ingin aku tuju. Yaitu pertanian. Banyak yang menganggap itu biasa dan aku menjadi sebel setiap yang menganggap jurusan itu remeh. Tapi kenyataanya aku sendiri meremehkan jurusan itu. Dengan sikapku yang tidak pernah belajar, hanya bermalas-malasan, main HP dan bermacam-macam kenyamanan yang menyesatkan. Itu semua bukti bahwa aku sendiri yang meremehkan jurusan pertanian. Harusnya aku sungguh-sungguh untuk pertanian. Jika memang aku senang dengan dunia agriculture, harus ada komitmen untuk menjadi luar biasa. Bukan hanya petani yang biasa saja. Kalau itu mah banyak macamnya.