Tahun 2020 menjadi tahun yang sangat spesial bagi semua manusia. Tahun yang sangat berbeda. Tidak boleh keluar, tidak boleh berkumpul, harus jaga jarak dan semua protokol lainnya. Tak lain karena adanya virus corona atau biasa disebut Covid-19.
Itulah yang menyebabkan kami para perantau tidak bisa mudik ke kampung halaman. Sebagaimana rutinitas dikala lebaran.
Hal menarik bagiku bisa lebaran di kampung orang. Tepatnya di Tahuna, Kab. Kep. Sangihe. Dimana mayoritas penduduk beragama Nasrani. Beruntungnya lingkungan kontrakan dimana aku tinggal merupakan lingkungan mayoritas muslim. Dekat dengan musholla dan tetangga banyak yang muslim. Suasana lebaran cukuplah terasa meski banyak yang berbeda.
Dari malam takbiran. Hanya terdengar gema takbir di musholla sampai jam 22.00. Tentu terasa sepi sekali. Berbeda dengan di kampung, takbir pasti bergema dari selepas maghrib sampai pagi sholat ied. Berhubung banyak teman seperantauan, kami memutuskan untuk bakar-bakar di malam takbiran. Demi menghibur diri dan mengobati rindu bekumpul sanak famili.
Paginya aku bangun agak molor. Tidak ada yang ngobraki bangun dan segera mandi seperti lebaran biasanya. Karena Covid-19 yang membuat beberapa masjid meniadakan sholat ied. Jadi kami sholat ied sendiri di rumah. Selain itu jam 07.00 ada acara penguatan mental dari kantor melalui zoom. Lebaran online sekaligus penguatan mental untuk para pegawai karena tidak bisa mudik.
Setelah itu barulah mulai sungkeman online kepada orang tua dan keluarga melalui video call. Semua terasa berbeda tak hanya disini tetapi di kampung halaman juga. Tidak banyak yang keliling untuk maaf-maafan. Bahkan ada yang menghimbau untuk tidak silaturahmi dulu, di rumah saja. Memang tampak di video hanya sedikit tamu yang datang.
Ada yang unik dari tradisi lebaran disini. Yaitu, Tawaf. Setelah shalat ied, melalui toa musholla diumumkan bahwa tawaf akan dilaksanakan pukul 09.00 hanya untuk satu RT. Awalnya kami bingung apa yang dimaksud tawaf? apakah keliling ke rumah-rumah seperti di kampung halaman itu?
Aku memutuskan untuk bertanya kepada tetangga, opo Ahmad, melalui Whatsapp. Dia bilang "iya Mas, keliling ke rumah-rumah."
Yogi sudah menyiapkan ruang tamu dengan suguhan kudapan-kudapan yang kami beli kemarin. Tapi belum juga ada tanda-tanda tamu yang datang. Kami memutuskan untuk tidur sebentar. Menuntaskan kantuk semalam yang masih tersisa.
"Assalamu'alaikum Mas..." Tiba-tiba suara itu terdengar nyaring sampai membangunkan tidurku. Berulang-ulang salam dan aku jawab dari dalam kamar memastikan ada orang. Segera berganti pakaian dan keluar kamar. Rombongan Imam musholla, bapak-bapak, serta remaja kampung datang. Yogi dan Umam langsung ikut keluar. Ruang tamu seketika penuh oleh tamu. Imam musholla memimpin doa. Ada juga bapak yang membawa kotak infaq. Sampai sekarang aku tidak paham kotak itu untuk apa. Akupun tak sempat mengisinya, karena setelah doa mereka langsung pamit. Tak lupa kudapan yang kami hidangkan menjaedi rebutan anak-anak. Mereka membawa sekotak-kotaknya. Sampai tersisa kudapan yang memang dari toples kaleng hahaha.
Kalau di desaku kan setiap keluarga kelilingnya. Hanya orang tua yang menunggu di rumah. Tapi disini ternyata hanya orang-orang yang ikut tawaf saja yang keliling. Dengan doa dan kotak infaq. Lebaran pertama di rantau membuat kita memahami tradisi lebaran yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar