menjadi butiran yang tidak tahu diri
terbang kesana kemari, mengikuti arus angin
duduk lama diatas bangkai-bangkai
menjilat setiap kebusukan
bahkan, mendorong untuk memakannya
aku telah lupa
pada kumpulan debu sahara
berbisik ular derik
tersapu angin, bahkan badai
terombang ambing
tertimbun, menimbun
pernah aku berbisik
suaraku terlalu lirih
diantara milyaran butir debu
hingga aku merasa terbaikan
memilih untuk lupa
aku terdiam
didalam keheningan
kuberanikan mencicipi bangkai
tak lagi kurasakan busuknya
betapa nikmatnya
tanpa keraguan sedikitpun
kadang ku tengok sampingku
usikannya menakutkan
matahari membangunkanku
karena teriknya
gersangnya gurun
hausnya tubuhku
aku masih kepanasan
aku butuh tegukan air
Tidak ada komentar:
Posting Komentar